Engkau tak perlu tahu, bahan dasar dari Beranda sederhana ini adalah cinta yang sedang menyala... Duduklah dengan tenang, sampai terasa nyaman, kami hampar alasnya dengan segenap ketulusan. Rasakan sejuknya, kami mengolahnya lengkap dengan kerinduan panjang yang tak sempat terkatakan.. Segala daya telah diupayakan, dan engkau tak perlu tahu, bahwa kami siapkan semua ini di atas altar kemesraan untuk kita... Semoga. Silahkan.. Salam Ukhuwah untuk semua, penuh takdhim, ^_^

Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Artikel. Tampilkan semua postingan

GENERASI MASJID *)

Adalah suatu keniscayaan alamiyah bahwa setiap orang ingin mendapatkan pengakuan yang dapat mengantarkannya kepada kedudukan tinggi pada strata masyarakat. Dan salah satu upaya untuk mencapainya adalah menempuh jenjang pendidikan. Sering kali, kita mengangap bahwa pendidikan sekolah yang tertuntut dengan segala macam peraturan yang tidak lain merupakan budaya transisi Kolonial Belanda dan Eropa adalah sistem pendidikan yang terbaik dan dapat mengantarkan anak didik menuju prestasi yang gemilang. Menganggap bahwa tidak ada jalan lain untuk mendapatkan kesuksesan di masyarakat kecuali dengan proses pendidikan. Namun, harus disadari bahwa pendidikan pada dasarnya adalah sebuah proses transformasi pengetahuan menuju ke arah perbaikan, penguatan, dan penyempurnaan semua potensi manusia. Oleh karena itu, pendidikan tidak mengenal ruang dan waktu ia tidak dibatasi oleh tebalnya tembok sekolah dan juga sempitnya waktu belajar di kelas. Pendidikan berlangsung sepanjang hayat dan bisa dilakukan kapan saja dan dimana saja manusia mau dan mampu melakukan proses pendidikan.

Dalam Islam tujuan yang ingin dicapai dalam pendidikan adalah membentuk insan kamil, yakni manusia paripurna yang memiliki kecerdasan inteletual dan spiritual sekaligus. Tujuan seperti ini tidak mungkin bisa terwujud tanpa adanya proses pendidikan yang baik. Oleh karena itu, para pakar pendidikan Islam kemudian mencoba merumuskan dan merancang bangunan pemikiran kependidikan, Islam yang diharapkan mampu menciptakan manusia-manusia paripurna yang akan mengemban tugas menyejahterakan dan memakmurkan kehidupan di muka bumi ini. Sebagaimana yang tertulis dalam Al-Qur’an apa Surah Ali Imran ayat 110. berikut terjemahan dari teks ajaran suci itu :

Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik.

Pemahaman tentang konsep atau teori pendidikan Islam dan aplikasinya dalam proses pendidikan yang dijalankan di lingkungan keluarga, sekolah, dan masyarakat secara integratif akan memberikan hasil yang maksimal dan dapat menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan kependidikan ke depan. Selain itu, pemahaman pengertian pendidikan Islam dan tujuannya, serta pendidik, peserta didik dan alat pendidikan harus dikembangkan dengan maksimal agar menjadi lebih fungsional, progresif dan faktual. Selama ini, pengertian, tujuan, bahkan evaluasi pendidikan hampir selalu dibatasi oleh tembok sekolah (formal), tanpa diusahakan untuk dibuka lebar sehingga pendidikan dapat berlangsung dimana pun dan di tempat-tempat nonformal lainnya.

Konsep tentang pendidikan Islam itu sendiri sangat luas jangkauannya karena menyangkut berbagai bidang yang berkaitan dengannya, mulai dari pengertian dasar, tujuan, pendidik, subjek didik, alat-alat, kurikulum, pendekatan dan metode, lingkungan sampai pada lembaga pendidikan. Semuanya haaru dikondisilan dengan baik. Masjid, misalnya, dapat difungsikan untuk kepentingan pendidikan yang terprogram sekaligus melengkapi serta menjadi alternatif dari pendidikan yang ada selama ini. Pengajuan alternatif ini, didasarkan pada realita bahwa pendidikan saat ini telah terlepas sangat jauh dari masjid yang telah menjadi nilai moral dan spiritual peserta didik, tersingkirkan oleh budaya negatif dari barat. Namun, sebagian besar masyarakat telah lupa akan sistem pendidikan masjid yang dikembangkan oleh Rasulullah saat penyebaran awal Islam sekitar pada awal abad 6 M. Mereka lebih dikenal dengan sebutan Ahli Shuffah. Pada organisasi pendidikan dan kederisasi seperti ini lebih memberikan titik tekan pada fungsi edukasi masjid sebagai pusat pendidikan dan pemberdayaan. Bukan hanya sebagai tempat suci yang digunakan untuk shalat dan mengaji. Dengan kata lain, masjid disini diartikan sebagai tempat yang Multifuction.

Masjid merupakan lembaga pedidikan luar sekolah yang merupakan institusi utama dan terpenting dalam mendidik dan membina umat. Masjid merupakan tempat yang disucikan dan didatangi oleh orang tua (keluarga), pendidik, peserta didik (sekolah), dan warga sekitar (masyarakat). Pertemuan mereka di tempat suci merupakan bagian dari proses edukatif yang bermanfaat bagi semua peserta didik ke depan. Jika masjid didesain dengan baik maka ia akan bisa membantu proses pendidikan dalam keluarga, sekolah, dan masyarakat sehingga proses pendidikan akan menjadi efektif dan efisien.

Pemanfaatan masjid ini, juga sebagai upaya menolak pembangunan masjid yang hanya sebagai formalitas dan terkadang hanya sebagai pelengkap dan aksesoris umat Islam. Realitanya, makin banyaknya masjid yang dibanguntidak menjamin banyaknya shaf-shaf jama’ah. Namun, saat ini timbullah kecendrungan umat untuk berupaya mengembalikan aktivitas masyarakat di masjid. Sikap optimis seperti ini disebabkan oleh beberapa faktor.

Pertama, masjid adalah tempat yang netral dari kepentingan politik, golongan atau ormas tertentu. Semua orang berkumpul tanpa adanya perbedaan status, pangkat, harta, dan lain sebagainya. Hal ini memudahkan transformasi pendidikan yang memiliki satu tujuan yang sama, yaitu menuju insan kamil yang dapat bermanfaat bagi masyarakat dan lingungan sekitarnya. Tidak ada kecanggungan untuk saling bertukar ilmu dan pengalaman, tidak ada jarak yang membatasi setiap orang untuk saling menasehati dan bercengkrama, karena di tempat inilah setiap orang hanya mengenal persamaan di bawah naungan Izzil Islam wal Muslimien.

Kedua, tradisi masjid adalah keterbukaan manajemen. Manajemen yang ada diterapkan di masjid memiliki sifat keterbukaan. Kita sering mengenal istilah REMAS (Remaja Masjid). Manajemen yang diterapkan di masjid sangat terbuka bagi masyarakat sekitar, bahkan dengan adanya REMAS, berarti memberikan kesempatan pada para pemuda untuk mengembangkan kemampuan manajemen mereka. Organisasi pemuda seperti inii jugan dapat digunakan sebagai lembaga kaderisasi pemuda dimana mereka berkumpul, bekerjasama secara rasional dan sistematis, terencana, terorganisasi, terpimpin danterkendali, dalam memanfaatkan sumber daya organisasi (uang, material, mesin, metode, lingkungan, sarana-parasarana, data, dll) secara efisien dan efektif untuk mencapai tujuan yang telah ditentukan. Kerjasama dimaksud adalah kerjasama yang terarah pada pencapaian tujuan. Kerjasama yang terarah tersebut dilakukan dengan mengikuti pola interaksi antar setiap individu atau kelompok. Pola interaksi tersebut diselaraskan dengan berbagai aturan, norma, keyakinan, nilai-nilai tertentu sebagaimana ditetapkan oleh para pendiri organisasi itu. Dengan demikian, masjid bisa digunakan untuk membina kesatuan masyarakat sekitar. Hal ini sangat efektif dalam membina kerja sama sosial dalam suatu lingkungan dan secara otomatis pendidikan yang tercipta dalam lingkungan tersebut akan berjalan sesuai dengan apa yang diharapkan.

Ketiga, pergantian kepengurusan masjid dilakukan secara transparan, sehingga terdapat keterbukaan kepada umat dan dapat dipertanggungjawabkan. Manajemen seperti ini akan memudahkan pengontrolan terhadap kinerja dan tingkat kapabilitas masjid dari waktu ke waktu. Disamping bahwa manajemen merupakan suatu proses sosial untuk menjamin kerjasama, partisipasi dalam keterlibatan sejumlah orang dalam mencapai sasaran dan tujuan tertentu yang ditetapkan secara efektif (Abbasi, 2005 : 19).

Keempat, orang terikat hatinya dengan Allah SWT. Sehingga segala aktivitas dan gerak geriknya hanya merupakan pengabdian kepada-Nya untuk mendapatkan ridlo semata. Sebagaimana hadist nabi SAW. dengan terjemahan :

7 orang yang akan dinaungi oleh Allah dibawah naungan-Nya di hari yang tidak ada naungan kecuali naungan-Nya, yaitu pemimpin yang adil, pemuda yang hati bergantung dengan masjid, seseorang yang tumbuh untuk beribadah kepada Allah SWT., dua orang yang saling mencintai bertemu dan berpisah karena Allah, seseorang yang apabila dipanggil seorang wanita berkedudukan dan jelita, kemudian ia berkata, “Sesungguhnya kau takut kepada Allah”, dan seseorang yang air matanya berlinangan karena mengingat Allah (Muttafaqquh ‘Alaih)

Dengan demikian, dapat diambil suatu alternatif sederhana dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan negeri ini tanpa memilah pendidikan tugas Tri Pusat Pendidikan sekaligus mengutkan kapabilitas Spiritual Quotion mereka. Yaitu dengan revitalisasi fungsi masjid selain sebagai tempat ibadah, masjid juga berfungsi sebagai pusat kaderisasi pemuda dan pendidikan. Semoga dapat menyumbang guna perbaikan kualitas pendidikan yang ada di negri ini. Wallahu a’lam bish-showab…

(* Ditulis oleh: Arina Kamiliya


Cinta Maya *)

Fenomena maraknya penyediaan situs jejaring sosial di internet dengan berbagai fitur tambahan yang cukup menarik, seperti “chatiing” dan lain sebagainya (baca: facebook, yahoo messenger, twitter, dll.) memang perlu diakui banyak membantu mempermudah beberapa urusan kita; mulai dari bertemu kembali teman lama yang selama ini entah kemana, sampai pada berjumpa dengan teman baru, dan lain sebagainya.

Masuk pada wilayah ini, kita tidak usah lagi repot-repot memikirkan jarak yang jauh, waktu yang berbeda dan seterusnya… Karena semua itu tidak jadi penghambat untuk selalu berhubungan. Sekalipun lawan bicara kita berda di belahan bumi selatan, dan kita di belahan bumi utara komunikasi tetap lancar, bahkan ‘seperti’ secara langsung bertatap muka. Begitu juga, seandainya kita berada di belahan bumi barat dan kita berada di belahan bumi timur tidak jadi faktor penghambat untuk saling berbagi kisah, curhat, dan lain-lain.

Ajang Tebar Pesona?

“g’ tw gw, mw kmn lo?, atut, askum, waskum,…,” ini adalah beberapa contoh kata dan kalimat yang pertama kali saya mengenalnya dari dunia maya (baca: cahtting). Singkat, padat, tapi cukup mewakili isi hati untuk disampaikan agar dipahami orang lain. Dan di dunia maya ini pula baru saya tahu bahwa ada seseorang yang –menurut pengakuannya punya nikname lebih dari seratus. Luar biasa dan mengherankan menurut saya ketika itu. Begitulah kenyataanya. Sama nyatanya dengan adanya nikname yang lumayan membuat saya geli, dan terkadang menjengkelkan; sebut saja nikname: juzt_hujan, siapa_aQ35, diam_sajalah, dan sejenisnya.

Selanjutnya, kenyataan ini mungkin bagi kita wajar-wajar saja. Tidak ada masalah sedikit pun. Tidak melanggar HAM. Tapi bagaimana pun, kita sama sekali tidak bisa memungkiri kenyataan lain bahwa apa yang tidak pernah kita anggap masalah, ternyata sudah banyak “menelan korban.” Dalam artian, ternyata beberapa situs jejaring dengan berbagai pelayanan menariknya tersebut seringkali dijadikan ajang tebar pesona diri (lebih khusunya pada lawan jenis). Banyak dari para user dan chatter yang dengan sengaja menyembunyikan identitas diri yang sebenarnya. Bahkan tidak jarang mereka malah mengobral murah kata cinta, rindu, puisi romantis, juga ungkapan lain yang sejatinya tak pernah ada. Tentunya untuk mendapatkan mangsa, alih-alih orang yang selama ini memang yang jadi incaran

Ironisnya, tidak sedikit yang terkena jerat. Banyak hati yang ternoda karenanya. Harapan muncul pada sesuatu yang sejatinya belum pasti. Banyak mimpi-mimpi indah lahir semata karena rayuan gombal belaka.

Siapa yang salah dalam kasus ini? Menyalahkan barangkali bukan pilihan paling tepat. Menyalahkan saja tidak cukup merubah keadaan. Yang terpenting sekarang adalah bagaimana kita lebih baik, dan mempersembahkan yang terbaik buat diri sendiri dan semuanya. Apalagi dengan banyaknya “korban” di antara kita, dan parahnya lagi, ternyata kita juga pelakunya.

Untuk Saya, Anda, Dia, dan Semuanya

Tulisan sederhana ini tidak dimaksudkan menyama-ratakan setiap user dan chatter. Tidak jarang juga mereka yang punya niat mulia, dan berangkat dari ketulusan; misalnya, tujuan dakwah, belajar agama dan lain sebagainya. Saya tidak pernah beranggapan bahwa dunia maya hanya dipenuhi kebohongan, kepalsuan dan jauh dari nilai-nilai kesejatian, seperti yang dituduhkan banyak orang (?)

Perlu diakui, bahwa kehadiran cinta ‘seringkali’ tidak pernah kita duga. Di mana pun dan kapan pun ia bisa hadir tanpa kita rencanakan sebelumnya, termasuk di dunia maya. Hanya saja, barangkali (kalau tidak mau dikatakan seratus persen iya) sangat tidak bijak, jika dunia maya jadi “pilhan” mencari ketulusan dan kesucian. Sangat tidak dewasa jika kita terlalu larut dalam dunia yang tak nyata. Sangat disayangkan jika kita mencari kesejatian cinta di dunia yang seringkali dikaitkan dengan ketidak pastian ini. Walaupun tidak menutup kemungkinan kita akan mendapatinya di sana.

Selain itu, bisa saja barang yang menurut kita adalah mutiara, namun sebenarnya ia tidak lebih dari beling yang pada gilirannya malah akan membuat kita terluka. Bukan tidak mungkin, barang yang kita kagumi saat ini sejatinya adalah racun dengan merk madu yang nantinya hanya akan membuat kita binasa dan, bukan hal mustahil, jika ternyata mimpi yang selama ini menghiasi kita pada dasarnya tidak lebih dari sekedar tipuan belaka.

Barangkali masih manusiawi bila mata kita ‘biru’ oleh barang “mewah,” “necis,” dan “wah!”. Tapi bagaimanapun kita harus tetap waspada dan pilah-pilih, sebab –meminjam istilah yang dipakai oleh KH. Zainuddin MZ., “Penmapilan tidak selamanya mencerminkan keaslian.” Apalagi jika “cinta” dan semua rasa itu memang berangkat dari pamrih, ketampanan atau kecantikan, karena ia akan hilang seiring berjalannya waktu. Tidak akan bertahan lama.

Jadi, pada dasarnya hanya ada dua pilihan dalam hidup ini: baik dan buruk. Benar dan salah. Terserah kita mau pilih yang mana. Yang jelas tiap pilihan pasti dengan konskuensinya masing-masing. Tidak ada yang salah dengan perasaan di hati, baik dalam kehidupan nyata, mapun daalam dunia maya, selama kita menempatkannya secara benar dan sesuai aturan. Karenanya, saat kita harus mencintai, tentnunya harus dengan cara yang benar, begitu pula saat harus menerima juga tidak boleh dengan gegabah. Musti dengan berbagai pertimbangan yang tidak merugikan.

(* Ditulis oleh: Miski M.